Materi 1 SISPALA IAM
SISPALA IKATAN PECINTA ALAM MAN 4 BANYUWANGI
PARK THE NATURE
TERDIRI:
1.
Lingkungan
Hidup ( Sekolah Adiwiyata )
2.
Moundtenering
3.
Dasar Survival
4.
Pertolongan
Pertama
5.
Menegemen
Perjalanan
6.
Medan Dan
Iklim
7.
Navigasi Darat
8.
Bivak
9.
Dasar
Pendirian Tenda Dan Packing
10.
Leadership
Sesuai Panduan Dasar Materi Pecinta Alam SISPALA Indonesia
MOUNTENERRING
PENDAHULUAN
Mendaki gunung bukan
olah raga biasa. Setidaknya setiap pendaki gunung harus cukup mentalnya,
mempunyai ketrampilan, kecerdasan, kekuatan, dan daya juang yang tinggi. Hal
ini karena tantangan yang dihadapi mempunyai kualitas tersendiri. Pada
hakekatnya bahaya dan tantangan tersebut adalah untuk menguji kemampuan diri
sendiri dalam bersekutu dengan alam keras. Keberhasilan suatu pendakian yang
sukar berarti keunggulan terhadap rasa takut dan kemenangan terhadap perjuangan
melawan diri sendiri.
Sejak dua abad yang lalu, kegiatan mendaki gunung mulai dikenal dan digemari oleh manusia. Dimulai sejak manusia harus melintasi bukit-bukit atau pegunungan, baik semasa peperangan maupun ketika melakukan tuntutan kehidupannya. Seperti yang dilakukan oleh Hanibal, panglima kerajaan Kartago, atas Pegunungan Alpen yang bersejarah. Atau petualangan yang dilakukan oleh Jengis Khan yang melintasi Pegunungan Karakoram dan Kaukasus untuk menuju Asia Tengah.
Dalam bentuknya seperti sekarang ini, pendakian yang gemilang untuk pertama kalinya terjadi pada tahun 1786, ketika Dr. Paccard dan seorang pemandu Balmant berhasil mencapai Puncak Mount Blanc (4807 m), yang maksudnya sebagai pengamatan ilmiah.
Babak berikutnya, puncak-puncak Pegunungan Alpen mulai dijajagi oleh penggemar olah raga mendaki gunung, dan semakin populer setelah Sir Alfred Willis beserta kawan-kawannya pada tahun 1854 berhasil mencapai Puncak Watterhorn (3708 m). pendakian itu merupakan abad emas Alpinisme dan merupakan cikal bakal terbentuknya perkumpulan pendaki gunung tertua di dunia, British Alpine Club (1857).
Kemudian Edward Whymper, seorang pelukis Inggris memimpi pendakian ke Matterhorn (4478 m) pada tahun 1865. Pendakian tersebut dimaksudkan untuk membuat lukisan Pegunungan Alpen. Tetapi tragis, ketika mereka turun setelah keberhasilannya, tali pengaman putus sehingga merenggut 4 jiwa dari 7 anggota kelompoknya. Setelah pendakian yang penuh tragedi itu, mulailah para pendaki gunung mencoba mencapai puncak-puncak lainnya.
Ketika puncak-puncak Pegunungan Alpen sudah sering didaki, para pendaki mulai mencari puncak lainnya, dan mengalihkan pilihan pada Pegunungan Himalaya. Sekelompok pendaki gunung Perancis, pada 1950 berhasil mencapai Puncak Annapurna I (8078 m). prestasi ini mendorong minat Kolonel John Hunt untuk memimpin ekspedisi mencapai Mount Everest (8848 m), puncak tertinggi di dunia yang ditemukan pada 1852 oleh Sir Andrew Vaugh (mengambil nama Everest untuk menghormati gurunya Sie George Everest).
Setelah beberapa kali mengalami kegagalan, akhirnya Mount Everest dapat dicapai oleh Edmund Hillary dari Selandia Baru dengan bendera Inggris, Nepal, dan PBB bersama seorang pemandu dari Nepal Tenzing Norgay pada tanggal 29 Mei 1953.
Di Indonesia, pada tahun 1909 – 1911, suatu ekspedisi persatuan ahli-ahli burung dari Inggris menembus rimba Irian dari arah Selatan, menuju gugusan pegunungan salju Jayawijaya. Mereka tinggal selama 16 bulan, tetapi kembali dengan kegagalan.
Ekspedisi Van der Pie pada tahun berikutnya mengambil arah dari sebelah Timur, dan juga mengalami kegagalan. Tahun 1912, Dr. Walaston dengan jalur Utara Lembah Itakwa berhasil mencapai ketinggian 3000 meter, namum belum berhasil mencapai Puncak Cartenz Pyramide. Ekspedisi berikutnya lebih berhasil di bawah pimpinan Dr. A. H. Colijin, mencapai Puncak NggaPulu (4862 m) di dinding Utara gletser es Puncak Jaya pada tahun 1936.
Pendakian itu membuka lembaran sejarah baru bagi pendakian di Indonesia. Tetapi lama setelah itu, ekspedisi dari Selandia Baru di bawah pimpinan Henrich Harreu pada 1962 berhasil mencapai puncak bersalju Cartenz Pyramide (4884 m). Tanggal 1 Maret 1964, Sugirin, Soedarto dan Fred Athaboe bersama Tazuke dan kawan-kawannya dari Jepang yang tergabung dalam Ekspedisi Cendrawasih berhasil mencapai Puncak NggaPulu yang kemudian diberi nama Puncak Soekarno di pegunungan tengah Jayawijaya.
Masih di tahun yang sama pada bulan Mei, Wanadri di Bandung diresmikan sebagai perkumpulan penempuh rimba dan pendaki gunung, dan Mapala UI di Jakarta di penghujung tahun yang sama. Dan secara serempak kemudian bermunculan perkumpulan lainnya serupa di berbagai kota di bumi.
Jenis-jenis Pendakian/Perjalanan
Sejak dua abad yang lalu, kegiatan mendaki gunung mulai dikenal dan digemari oleh manusia. Dimulai sejak manusia harus melintasi bukit-bukit atau pegunungan, baik semasa peperangan maupun ketika melakukan tuntutan kehidupannya. Seperti yang dilakukan oleh Hanibal, panglima kerajaan Kartago, atas Pegunungan Alpen yang bersejarah. Atau petualangan yang dilakukan oleh Jengis Khan yang melintasi Pegunungan Karakoram dan Kaukasus untuk menuju Asia Tengah.
Dalam bentuknya seperti sekarang ini, pendakian yang gemilang untuk pertama kalinya terjadi pada tahun 1786, ketika Dr. Paccard dan seorang pemandu Balmant berhasil mencapai Puncak Mount Blanc (4807 m), yang maksudnya sebagai pengamatan ilmiah.
Babak berikutnya, puncak-puncak Pegunungan Alpen mulai dijajagi oleh penggemar olah raga mendaki gunung, dan semakin populer setelah Sir Alfred Willis beserta kawan-kawannya pada tahun 1854 berhasil mencapai Puncak Watterhorn (3708 m). pendakian itu merupakan abad emas Alpinisme dan merupakan cikal bakal terbentuknya perkumpulan pendaki gunung tertua di dunia, British Alpine Club (1857).
Kemudian Edward Whymper, seorang pelukis Inggris memimpi pendakian ke Matterhorn (4478 m) pada tahun 1865. Pendakian tersebut dimaksudkan untuk membuat lukisan Pegunungan Alpen. Tetapi tragis, ketika mereka turun setelah keberhasilannya, tali pengaman putus sehingga merenggut 4 jiwa dari 7 anggota kelompoknya. Setelah pendakian yang penuh tragedi itu, mulailah para pendaki gunung mencoba mencapai puncak-puncak lainnya.
Ketika puncak-puncak Pegunungan Alpen sudah sering didaki, para pendaki mulai mencari puncak lainnya, dan mengalihkan pilihan pada Pegunungan Himalaya. Sekelompok pendaki gunung Perancis, pada 1950 berhasil mencapai Puncak Annapurna I (8078 m). prestasi ini mendorong minat Kolonel John Hunt untuk memimpin ekspedisi mencapai Mount Everest (8848 m), puncak tertinggi di dunia yang ditemukan pada 1852 oleh Sir Andrew Vaugh (mengambil nama Everest untuk menghormati gurunya Sie George Everest).
Setelah beberapa kali mengalami kegagalan, akhirnya Mount Everest dapat dicapai oleh Edmund Hillary dari Selandia Baru dengan bendera Inggris, Nepal, dan PBB bersama seorang pemandu dari Nepal Tenzing Norgay pada tanggal 29 Mei 1953.
Di Indonesia, pada tahun 1909 – 1911, suatu ekspedisi persatuan ahli-ahli burung dari Inggris menembus rimba Irian dari arah Selatan, menuju gugusan pegunungan salju Jayawijaya. Mereka tinggal selama 16 bulan, tetapi kembali dengan kegagalan.
Ekspedisi Van der Pie pada tahun berikutnya mengambil arah dari sebelah Timur, dan juga mengalami kegagalan. Tahun 1912, Dr. Walaston dengan jalur Utara Lembah Itakwa berhasil mencapai ketinggian 3000 meter, namum belum berhasil mencapai Puncak Cartenz Pyramide. Ekspedisi berikutnya lebih berhasil di bawah pimpinan Dr. A. H. Colijin, mencapai Puncak NggaPulu (4862 m) di dinding Utara gletser es Puncak Jaya pada tahun 1936.
Pendakian itu membuka lembaran sejarah baru bagi pendakian di Indonesia. Tetapi lama setelah itu, ekspedisi dari Selandia Baru di bawah pimpinan Henrich Harreu pada 1962 berhasil mencapai puncak bersalju Cartenz Pyramide (4884 m). Tanggal 1 Maret 1964, Sugirin, Soedarto dan Fred Athaboe bersama Tazuke dan kawan-kawannya dari Jepang yang tergabung dalam Ekspedisi Cendrawasih berhasil mencapai Puncak NggaPulu yang kemudian diberi nama Puncak Soekarno di pegunungan tengah Jayawijaya.
Masih di tahun yang sama pada bulan Mei, Wanadri di Bandung diresmikan sebagai perkumpulan penempuh rimba dan pendaki gunung, dan Mapala UI di Jakarta di penghujung tahun yang sama. Dan secara serempak kemudian bermunculan perkumpulan lainnya serupa di berbagai kota di bumi.
Jenis-jenis Pendakian/Perjalanan
Olah raga mendaki
gunung sebenarnya mempunyai tingkat dan kualifikasinya. Seperti yang sering
kita dengar adalah istilah mountaineering atau istilah serupa lainnya. Istilah
yang keren itu membuat kita tersipu, karena artinya begitu luas, misalnya
mencakup pengertian perjalanan mulai melintasi bukit hingga melakukan ekspedisi
ke Himalaya.
Menurut bentuk dan jenis medan yang dihadapi, mountaineering dapat dibagi sebagai berikut :
1. Hill Walking/Feel Walking
Menurut bentuk dan jenis medan yang dihadapi, mountaineering dapat dibagi sebagai berikut :
1. Hill Walking/Feel Walking
·
Perjalanan mendaki
bukit-bukit yang relatif landai. Tidak membutuhkan peralatan teknis pendakian.
Hal utama adalah jalur pendakian sudah tersedia. Perjalanan ini dapat memakan
waktu sampai beberapa hari, sehingga ketrampilan memilih tempat berbivak sangat
diperlukan, atau kadang-kadang sudah tersedia.
·
Contoh : perjalanan ke
puncak Gunung Gede.
2. Scrambling
·
Pendakian setahap demi
setahap pada suatu permukaan yang tidak begitu terjal. Tangan kadang-kadang
dipergunakan hanya untuk keseimbangan. Untuk pemula, tali kadang-kadang harus
dipasang untuk pengamanan dan mempermudah gerakan.
·
Contoh : perjalanan di
sekitar puncak Gunung Gede jika melalui jalur Cibodas. Tali dipasang selain
sebagai pengaman, juga untuk mempermudah perjalanan ke puncak.
3. Climbing
Dikenal sebagai suatu perjalananpendek yang umumnya tidak memakan waktu lebih dari 1 hari, hanya rekreasi ataupun beberapa pendakian gunung yang praktis. Kegiatan pendakian yang membutuhkan penguasaan teknik mendaki dan penguasaan pemakaian peralatan. Bentuk climbing ada dua macam :
Dikenal sebagai suatu perjalananpendek yang umumnya tidak memakan waktu lebih dari 1 hari, hanya rekreasi ataupun beberapa pendakian gunung yang praktis. Kegiatan pendakian yang membutuhkan penguasaan teknik mendaki dan penguasaan pemakaian peralatan. Bentuk climbing ada dua macam :
·
Rock
Climbing; Pendakian pada
tebing-tebing batu atau dinding karang. Jenis pendakian ini akan diuraikan
lebih lanjut, karena jenis pendakian inilah yang umumnya ada di daerah tropis.
·
Snow
and Ice Climbing; Pendakian pada es
dan salju. Pada pendakian ini peralatan-peralatan khusus sangat diperlukan,
seperti ice axe, ice screw, crampon, dan lain-lain.
4. Mountaineering
Merupakan gabungan perjalanan dari semua bentuk pendakian di atas. Bisa memakan waktu berhari-hari, bahkan sampai berbulan-bulan. Di samping pengetahuan teknik mendaki dan pengalaman mendaki, perlu juga dikuasai manajemen perjalanan, pengaturan makanan, komunikasi, dan lain-lain. Contoh : ekspedisi ke Himalaya.
TEKNIK DASAR PENDAKIAN/ROCK CLIMBING
A. Teknik Mendaki
Teknik memanjat pada dasarnya merupakan cara agar kita dapat menempatkan tubuh sedemikian rupa sehingga cukup stabil, memberi peluang untuk bergerak, dan dapat bertahan lama (tidak melelahkan). Dengan demikian kita dapat melakukan pendakian dengan tepat, aman, dan sedapat mungkin cepat.
Stabilitas atau keseimbangan kedudukan badan muncul sebagai hasil hubungan antara berat badan dan gaya tumpuan atau pegangan yang ada pada permukaan tebing. Pengaturan letak badan, gaya tumpuan dan pegangan menentukan kestabilan yang diperoleh. Peluang gerak untuk mendaki lebih lanjut ditentukan oleh kemampuan menempatkan tubuh pada tempat yang cocok untuk kondisi medan yang dihadapi.
Pada umumnya dinding tebing terdiri dari bermacam cracks dan ledges. Karena pengaruh iklim, suhu, angin, serta faktor lainnya, dinding tebing mengalami kontraksi dan ekspansi yang menyebabkan munculnya celah mulai dari yang kecil/sempit sampai yang panjang/lebar. Dinding sering mengalami erosi sehingga mengalami kekasaran dan ketidakrataan permukaan. Kekasaran dan ketidakrataan ini dapat dipergunakan sebagai tumpuan/injakan maupun pegangan. Karena bermacamnya kondisi permukaan tebing ini, maka teknik memanjat dikelompokkan berdasarkan tiga kategori umum. Pengelompokkan ini sesuai dengan bagian tebing yang dimanfaatkan untuk memperoleh gaya tumpuan dan pegangan.
1. Face Climbing
Yaitu memanjat pada permukaan tebing dimana masih terdapat tonjolan atau rongga yang memadai sebagai pijakkan kaki maupun pegangan tangan. Para pendaki pemula biasanya mempunyai kecenderungan untuk mempercayakan sebagian besar berat badannya pada pegangan tangan, dan menempatkan badannya rapat ke tebing. Ini adalah kebiasaan yang salah. Tangan manusia tidak biasa digunakan untuk mempertahankan berat badan dibandingkan kaki, sehingga beban yang diberikan pada tangan akan cepat melelahkan untuk mempertahankan keseimbangan badan. Kecenderungan merapatkan badan ke tebing dapat mengakibatkan timbulnya momen gaya pada tumpuan kaki. Hal ini memberikan peluang untuk tergelincir. Konsentrasi berat di atas bidang yang sempit (tumpuan kaki) akan memberikan gaya gesekan dan kestabilan yang lebih baik.
2. Friction/Slab Climbing
Teknik ini semata-mata hanya mengandalkan gaya gesekan sebagai gaya penumpu. Ini dilakukan pada permukaan tebing yang tidak terlalu vertikal, kekasaran permukaan cukup untuk menghasilkan gaya gesekan. Gaya gesek terbesar diperoleh dengan membebani bidang gesek dengan bidang normal sebesar mungkin. Sol sepatu yang baik dan pembebanan maksimal di atas kaki akan memberikan gaya gesek yang baik.
3. Fissure Climbing
Teknik ini memanfaatkan celah yang dipergunakan oleh anggota badan yang seolah-olah berfungsi sebagai pasak. Dengan cara demikian, dan beberapa pengembangan, dikenal teknik-teknik berikut :
Teknik ini memanfaatkan celah yang dipergunakan oleh anggota badan yang seolah-olah berfungsi sebagai pasak. Dengan cara demikian, dan beberapa pengembangan, dikenal teknik-teknik berikut :
·
Jamming adalah teknik
memanjat dengan memanfaatkan celah yang tidak begitu lebar. Jari-jari tangan,
kaki, atau tangan dapat dimasukkan/diselipkan pada celah sehingga seolah-olah
menyerupai pasak.
·
himneying adalah
teknik memanjat celah vertikal yang cukup lebar (chimney). Badan masuk di
antara celah, dan punggung di salah satu sisi tebing. Sebelah kaki menempel
pada sisi tebing depan, dan sebelah lagi menempel ke belakang. Keduatangan
diletakkan menempel pula. Kedua tangan membantu mendorong ke atas bersamaan
dengan kedua kaki yang mendorong dan menahan berat badan.
·
Bridging adalah teknik
memanjat pada celah vertikal yang lebih besar (gullies). Caranya dengan
menggunakan kedua tangan dan kaki sebagai pegangan pada kedua celah tersebut.
Posisi badan mengangkang, kaki sebagai tumpuan dibantu oleh tangan yang juga
berfungsi senagai penjaga keseimbangan.
·
Lay Back adalah teknik
memanjat pada celah vertikal dengan menggunakan tangan dan kaki. Pada teknik
ini, jari tangan mengait tepi celah tersebut dengan punggung miring sedemikian
rupa untuk menempatkan kedua kaki pada tepi celah yang berlawanan. Tangan menarik
ke belakang dan kaki mendorong ke depan dan kemudian bergerak naik ke atas
silih berganti.
Teknik-teknik lain
yang sering digunakan dalam pendakian tebing adalah :
·
Hand Traverse adalah
teknik memanjat pada tebing dengan gerak menyamping (horizontal). Hal ini
dilakukan bila tempat pegangan yang ideal sangat minim dan memanjat vertikal
sudah tidak memungkinkan lagi. Teknik ini sangat rawan, dan banyak memakan
tenaga karena seluruh berat badan tergantung pada pegangan tangan. Sedapat
mungkin pegangan tangan dibantu dengan pijakan kaki (ujung kaki) agar berat
badan dapat terbagi lebih merata.
·
Mantelself adalah
teknik memanjat tonjolan-tonjolan (teras-teras kecil) yang letaknya agak
tinggi, namun cukup besar dan dapat diandalkan untuk tempat berdiri selanjutnya.
Kedua tangan dipergunakan untuk menarik berat badan, dibantu dengan pergerakan
kaki. Bila tonjolan-tonjolan tersebut setinggi paha atau dada, maka posisi
tangan berubah dari menarik menjadi menekan, untuk mengangkat berat badan, yang
dibantu dengan dorongan kaki.
Proses memanjat
merupakan gabungan dari berbagai kegiatan dasar, yaitu :
·
Mengamati, mengenal
medan, dan menentukan lintasan/rute yang akan dilalui, baik secara keseluruhan
maupun selangkah, yang sangat menentukan untuk langkah berikutnya. Permukaan
tebing yang banyak memiliki tangga-tangga (teras kecil), tonjolan, lekukan, dan
celah serta sudut (corner) merupakan lintasan-lintasan yang mungkin untuk
dilalui.
·
Memikirkan teknik yang
akan dipakai secara keseluruha maupun selangkah demi selangkah. Teknik tersebut
merupakan pemikiran atau hasil pengamatan dari lintasan yang dilihat (apakah
ada chimney, crack, dan sebagianya).
·
Mempersiapkan
perlengkapan yang diperlukan.
·
Gerak memanjat yang
sesuai dengan lintasan dan teknik yang dibicarakan.
Dengan kegiatan dasar di atas kita dapat mengerti dan menyadari apa saja sesungguhnya masalah yang ada selama pendakian, sehingga dengan demikian kita dapat mempersiapkan dan berlatih serta selalu mengembangkan kemampuan dengan lebih terarah dan efektif.
Ketika mulai mendaki dan sedang mendaki sering sekali kita dihadapkan pada tonjolan atau celah yang berbeda-beda jarak jangkauannya. Usahakan jangan menjangkau terlalu jauh, sehingga berat badan masih tetap terkonsentrasi pada bidang tumpuan. Gerakan yang terlalu cepat dan tergesa-gesa bisa berbahaya. Ketangkasan bergerak adalah hasil latihan yang teratur dan terarah, bukan dari ketergesa-gesaan.
Dalam pergerakan menyilangkan kaki akan dapat menghilangkan keseimbangan, dan biasanya sulit dilakuakan. Penting sekali selalu bergerak dengan 3 bagian anggota badan tetap pada tumpuan sementara 1 anggota badan mencari tumpuan baru. Gerakan ini dikenal dengan gerakan “tiga satu”. Sebelum bertumpu pada suatu pegangan, hendaknya selalu dicoba atau diperiksa terlebih dahulu, apakah kuat atau tidak menahan badan.
Pembagian Pendakian Berdasarkan Pemakaian Alat
1. Free Climbing
Sesuai dengan namanya, pada free climbing alat pengaman yang paling baik adalah diri sendiri. Namun keselamatan diri dapat ditingkatkan dengan adanya ketrampilan yang diperoleh dari latihan yang baik dan mengikuti prosedur yang benar. Dengan latihan yang baik, otot-otot tangan dan kaki akan cukup kuat dan terlatih. Begitu pula dengan keseimbangan badan dan gerakan-gerakan, akan terlatih dengan sendirinya. Disamping itu kita dapat memperkirakan kemampuan kita dan memperhitungkan lintasan yang akan dilalui. Pada free climbing, peralatan berfungsi hanya sebagai pengaman. Tali, carabiner, sling, chock, dan piton tetap dipakai, tetapi hanya berfungsi sebagai pengaman bila jatuh. Dalam pelaksanaannya, ia bergerak sambil memasang, jadi kalaupun tanpa alat-alat tersebut ia masih mampu bergerak atau melanjutkan pendakian. Dalam pendakian tipe ini seorang pendaki diamankan oleh belayer.
2. Free Soloing
Merupakan bagian dari free climbing, tetapi si pendaki benar-benar melakukannya degan segala risiko yang siap dihadapinya seorang diri. Dalam pergerakannya ia tidak memerlukan peralatan pengaman. Untuk melakuakan free soloing climbing, seorang pendaki harus benar-benar mengetahui segala bentuk rintangan atau bentuk-bentuk pergerakan pada rute yang dilaluinya. Bahkan kadang-kadang ia harus menghapalkan dahulu segala gerakan, baik itu tumpuan atau pegangan. Sehingga biasanya orang akan melakukan free soloing climbing bila ia sudah pernah mendaki pada lintasan yang sama. Risiko yang dihadapi pendaki tipe ini sangat fatal sekali, sehingga hanya orang yang mampu dan benar-benar profesional yang akan melakukannya.
3. Artificial Climbing
Adalah pemanjatan tebing dengan bantuan peralatan tambahan, seperti paku tebing, bor, stirrup, dan lain-lainnya. Peralatan tersebut harus dipergunakan karena dalam pendakian sering sekali dihadapi medan yang kurang atau tidak sama sekali memberikan tumpuan atau peluang gerak yang memadai, misalnya menghadapi medan yang blank (tanpa ada tonjolan atau tumpuan). Peralatan berfungsi sebagai pengaman dan juga untuk mendapatkan tunpuan, pendakian dilakuakan secara berkelompok, pembagian tugas jelas antara leader dan belayer. Peralatan dan metode yang digunakan dimulai dari yang paling sederhana dan tepat. Kemampuan untuk bergerak cepat dan aman bukan disebabkan oleh adanya peralatan yang supermodern, tetapi lebih pada penggunaan teknik yang baik.
Sistem Pendakian
1.
Himalayan
Style; Sistem pendakian
yang biasanya dengan rute yang panjang, sehingga untuk mencapai sasaran
(puncak) diperlukan waktu yang lama. Sistem ini berkembang pada
pendakian-pendakian ke Pegunungan Himalaya. Pendakian tipe ini biasanya terdiri
atas beberapa kelompok dan tempat-tempat peristirahatan (base camp, fly camp).
Sehingga dengan berhasilnya satu orang dari seluruh tim, berarti pendakian ini
sudah berhasil untuk seluruh tim.
2.
Alpine
Style; Sistem ini
banyak dikembangkan di pegunungan Eropa. Pendakian ini mempunyai tujuan bahwa
semua pendaki harus sampai di puncak dan baru pendakian dianggap berhasil.
Sistem pendakian ini umumnya lebih cepat karena para pendaki tidak perlu lagi
kembali ke base camp (bila kemalaman bisa membuat fly camp baru, dan esoknya
dilanjutkan kembali).
B. Teknik Turun/Rappeling
Teknik ini digunakan
untuk menuruni tebing. Dikategorikan sebagai teknik yang sepenuhnya bergantung
pada peralatan. Prinsip rappeling adalah sebagai berikut :
1.
Menggunakan tali
rappel sebagai jalur lintasan dan tempat bergantung.
2.
Menggunakan gaya berat
badan dan gaya tolak kaki pada tebing sebagai pendorong gerak turun.
3.
Menggunakan salah satu
tangan untuk keseimbangan dan tangan lainnya untuk mengatur kecepatan turun.
Macam-macam dan Variasi Teknik Rappeling
1.
Body
Rappel; Menggunakan peralatan
tali saja, yang dibelitkan sedemikian rupa pada badan. Pada teknik ini terjadi
gesekan antara badan dengan tali sehingga bagian badan yang bergesekan akan
terasa panas.
2.
Brakebar
Rappel; Menggunakan
sling/tali tubuh, carabiner, tali dan brakebar. Modifikasi lain dari brakebar
adalah descender (figure 8). Pemakaiannya hampir sama, dimana gaya gesek
diberikan pada descender atau brakebar.
3.
Sling
Rappel; Menggunakan
sling/tali tubuh, carabiner, dan tali. Cara ini paling banyak dilakukan karena
tidak memerlukan peralatan lain, dan dirasakan cukup aman. Jenis simpul yang
dianjurkan adalah jenis Italian Hitch.
4.
Arm
Rappel/Hesti; Menggunakan tali
yang dibelitkan pada kedua tangan melewati bagian belakang badan. Dipergunakan
untuk tebing yang tidak terlalu curam.
Dalam rappeling,
usahakan posisi badan selalu tegak lurus pada tebing, dan jangan terlalu cepat
turun. Usahakan mengurangi sesedikit mungkin benturan badan pada tebing dan
gesekan antara tubuh dengan tali. Sebelum memulai turun, hendaknya :
1.
Periksa dahulu
anchornya.
2.
Pastikan bahwa tidak
ada simpul pada tali yang dipergunakan.
3.
Sebelum sampai ke tepi
tebing hendaknya tali sudah terpasang dan pastikan bahwa tali sampai ke bawah
(ke tanah).
4.
Usahakan melakukan
pengamatan sewaktu turun, ke atas dan ke bawah, sehingga apabila ada batu atau
tanah jatuh kita dapat menghindarkannya, selain itu juga dapat melihat lintasan
yang ada.
5.
Pastikan bahwa pakaian
tidak akan tersangkut carabiner atau peralatan lainnya.
PERALATAN PENDAKIAN
1. Tali Pendakian
Fungsi utamanya dalam pendakian adalah sebagai pengaman apabila jatuh. Mengingat fungsi yang begitu penting, tali haruslah kuat. Kekuatan tali ini tergantung dari diameter (ukuran tali) dan pabrik pembuatnya. Dianjurkan, jenis-jenis tali yang dipakai hendaknya yang telah diuji oleh UIAA, suatu badan yang menguji kekuatan peralatan-peralatan pendakian. Panjang tali dalam pendakian dianjurkan sekitar 50 meter, yang memungkinkan leader da belayer masih dapat berkomunikasi. Umumnya diameter tali yang dipakai adalah 10 – 11 mm, tetapi sekarang ada tali pendakian yang mempunyai kekuatan sama, yang berdiameter 9,8 mm. Untuk penggunaan double rope digunakan tali dengan diameter 8 – 9 mm. Ada dua macam tali pendakian, yaitu :
1. Tali Pendakian
Fungsi utamanya dalam pendakian adalah sebagai pengaman apabila jatuh. Mengingat fungsi yang begitu penting, tali haruslah kuat. Kekuatan tali ini tergantung dari diameter (ukuran tali) dan pabrik pembuatnya. Dianjurkan, jenis-jenis tali yang dipakai hendaknya yang telah diuji oleh UIAA, suatu badan yang menguji kekuatan peralatan-peralatan pendakian. Panjang tali dalam pendakian dianjurkan sekitar 50 meter, yang memungkinkan leader da belayer masih dapat berkomunikasi. Umumnya diameter tali yang dipakai adalah 10 – 11 mm, tetapi sekarang ada tali pendakian yang mempunyai kekuatan sama, yang berdiameter 9,8 mm. Untuk penggunaan double rope digunakan tali dengan diameter 8 – 9 mm. Ada dua macam tali pendakian, yaitu :
1.
Static
Rope, tali pendakian
yang kelenturannya mencapai 2 – 5 % dari berat maksimum yang diberikan.
Sifatnya kaku. Umumnya berwarna putih atau hijau. Tali statik digunakan untuk
rappeling.
2.
Dynamic
Rope, tali pendakian
yang kelenturannya mencapai 5 – 15 % dari berat maksimum yang diberikan.
Sifatnya lentur dan fleksibel. Biasanya berwarna menyolok (merah, jingga,
ungu). Pada penggunaannya, digunakan oleh pendaki pertama (leader) sebagai
pengaman dan dipasang di pengaman-pengaman yang telah dipasang (chock, piton,
dan sebagianya) dengan bantuan carabiner dan sling.
Perawatan tali adalah
dengan menggantungkan atau disimpan di tempat kering. Bila basah, dikeringkan
dengan diangin-anginkan, jangan terkena sinar matahari secara langsung. Apabila
kotor, tali ini dapat dicuci dengan cara menggosok atau menyikat dengan sikat
halus. Jangan sampai merusak mantelnya. Tali kernmantel masih dapat dipakai
dalam pendakian apabila mantel pada tali masih utuh, sehingga bagian dalam
masih terlindungi.
Hal yang berkaitan dengan tali pada pendakian adalah simpul. Simpul-simpul yang digunakan harus memenuhi syarat sebagai berikut
Hal yang berkaitan dengan tali pada pendakian adalah simpul. Simpul-simpul yang digunakan harus memenuhi syarat sebagai berikut
·
Mudah dibuat
·
Cepat untuk dikuasai
·
Aman (kuat) dan mudah
untuk dibuka
Beberapa jenis simpul yang
harus dikuasai :Carabiner adalah sebuah cincin yang berbentuk oval atau huruf D dan mempunyai gate yang berfungsi sebagai peniti. Dibuat dari alumunium alloy dan mempunyai kekuatan bervariasi sesuai dengan desain pabrik pembuatnya. Biasanya kekuatan suatu carabiner tercantum pada alat tersebut. Ada dua jenis carabiner, yaitu :
a. Carabiner Screw Gate (menggunakan kunci pengaman)
b. Carabiner Non Screw Gate (tanpa kunci pengaman)
Kekuatan carabiner terletak pada pen yang ada, sehingga jika pen suatu carabiner sudah longgar, sebaiknya jangan dipakai.
3. Sling
Sling biasanya dibuat dari tabular webbing, terdiri dari beberapa tipe. Fungsi sling antara lain :
·
Sebagai penghubung
·
Membuat natural point,
dengan memanfaatkan pohon atau lubang di tebing
·
Mengurangi gaya
gesek/memperpanjang point
·
Mengurangi gerakan
(yang menambah beban) pada chock atau piton yang terpasang.
4. Descender
Sebuah alat berbentuk angka delapan, terbuat dari alumunium alloy. Fungsinya sebagai pembantu menahan gesekan, sehingga dapat membantu pengereman. Biasa digunakan untuk membelay atau untuk rappeling.
5. Ascender
Berbentuk semacam catut yang dapat menggigit apabila diberi beban dan membuka bila dinaikkan. Fungsi utamanya sebagai alat bantu untuk naik pada tali.
6.
Harnes/Tali Tubuh
Alat pengaman yang dapat menahan atau mengikat badan. Ada dua jenis harnes :
Alat pengaman yang dapat menahan atau mengikat badan. Ada dua jenis harnes :
·
Seat Harnes, menahan
berat badan di pinggang dan paha.
·
Body Harnes, menahan
berat badan di dada, pinggang, punggung, dan paha.
·
Harnes ada yang dibuat
dengan merangkai webbing atau tali, dan ada yang sudah langsung dirakit oleh
pabrik.
·
Sepatu yang lentur dan
fleksibel. Bagian bawah terbuat dari karet yang kuat. Kelenturannya menolong
untuk pijakan-pijakan di celah-celah. Contohnya : EB, Dolomite.
·
Sepatu yang tidak
lentur/kaku pada bagian bawahnya. Misalnya Combat boot (sepatu tentara). Cocok
digunakan pada tebing yang banyak tonjolannya atau tangga-tangga kecil. Gaya
tumpuan dapat tertahan oleh bagian depan sepatu.
8.
Anchor (Jangkar)
Anchor adalah alat yang dapat dipakai sebagai
penahan beban. Tali pendakian dimasukkan pada anchor, sehingga pendaki dapat
tertahan oleh anchor bila jatuh. Ada dua macam anchor, yaitu :
·
aNatural Anchor, bisa
merupakan pohon besar, lubang-lubang di tebing, tonjolan-tonjolan batuan, dan
sebagianya.
·
Artificial Anchor,
anchor buatan yang ditempatkan dan diusahakan ada pada tebing oleh si pendaki.
Contoh : chock, piton, bolt, dan lain-lain.
CLIMBING
CALL (ABA-ABA PENDAKIAN)
Aba-aba
pendakian digunakan agar ada kerja sama yang baik antara leader dengan belayer.
Aba-aba pendakian meliputi :
·
Climbing when you’re
ready
·
Climbing
·
OK
·
Take in
·
Slack
·
Rock
·
Fall
PROSEDUR
PENDAKIAN
Tahapan-tahapan
dalam suatu pendakian hendaknya dimulai dari langkah-langkah sebagai berikut :
1.
Mengamati lintasan dan
memikirkan teknik yang akan dipakai.
2.
Menyiapkan
perlengkapan yang diperlukan
3.
Untuk leader,
perlengkapan teknis diatur sedemikian rupa agar mudah untuk diambil/memilih dan
tidak mengganggu gerakan. Tugas leader adalah membuka lintasan yang akan
dilalui oleh dirinya sendirir dan pendaki berikutnya.
4.
Untuk belayer,
memasang anchor dan merapikan alat-alat (tali yang akan dipakai). Tugas belayer
adalah membantu leader dalam pergerakan dan mengamankan leader bila jatuh.
Belayer harus selalu memperhatikan leader, baik aba-aba ataupun memperhatikan
tali, jangan terlalu kencang dan jangan terlalu kendur.
5.
Bila belayer dan
leader sudah siap memulai pendakian, segera memberi aba-aba pendakian.
6.
Bila leader telah sampai
pada ketinggian 1 pitch (tali habis), ia harus memasang anchor.
7.
Leader yang sudah
memasang anchor di atas selanjutnya berfungsi sebagai belayer, untuk
mengamankan pendaki berikutnya.
Komentar
Posting Komentar