Materi 5
KESEHATAN
PERJALANAN & P3K
KESEHATAN PERJALANAN
Definisi yang tepat tentang kesehatan perjalanan belumlah ada, tetapi secara umum dapat diartikan sebagai hal-hal yang mencakup keadaan kesehatan pada suatu perjalanan. Adapun tujuan kesehatan perjalanan antara lain adalah untuk mencapai keadaan sesehat-sehatnya selama dan sesudah melakukan perjalanan.
Dengan melihat arti secara umum dan tujuannya, maka hal-hal yang dibicarakan menyangkut tentang persiapan perjalanan secara umum, antara lain :
Definisi yang tepat tentang kesehatan perjalanan belumlah ada, tetapi secara umum dapat diartikan sebagai hal-hal yang mencakup keadaan kesehatan pada suatu perjalanan. Adapun tujuan kesehatan perjalanan antara lain adalah untuk mencapai keadaan sesehat-sehatnya selama dan sesudah melakukan perjalanan.
Dengan melihat arti secara umum dan tujuannya, maka hal-hal yang dibicarakan menyangkut tentang persiapan perjalanan secara umum, antara lain :
·
Persiapan fisik
·
Persiapan mental
·
Pengetahuan praktis
tentang kesehatan
·
Pembekalan/gizi
Agar tidak terjadi
tumpang tindih dengan materi P3K, maka hal-hal tentang kasus-kasus dari
kesehatan perjalanan tidak akan dibicarakan.
Keberhasilan suatu perjalanan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :
1. Fisik
Fisik yang baik tidak dapat dicapai dalam waktu singkat, tetapi hanya dengan latihan yang teratur dan kontinyu. Dalam kegiatan semacam pendakian gunung, menempuh rimba, penyusuran pantai, diperlukan suatu kemampuan fisik yang bisa bertahan dalam waktu lama. Untuk ini kemampuan sistem jantung, paru-paru dalam tubuh haruslah terlatih.
Salah satu cara yang paling mudah untuk mengukur kemampuan fisik adalah dengan melakukan aerobik. Selain itu diimbangi juga dengan latihan-latihan lain yang sesuai dengan jenis kegiatan yang akan dilakukan.
Sebagai contoh yang mudah kita lakukan ialah dengan melakukan pemeriksaan denyut jantung nadi tubuh kita sendiri, yaitu dengan melakukan metode sebagai berikut :
Keberhasilan suatu perjalanan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :
1. Fisik
Fisik yang baik tidak dapat dicapai dalam waktu singkat, tetapi hanya dengan latihan yang teratur dan kontinyu. Dalam kegiatan semacam pendakian gunung, menempuh rimba, penyusuran pantai, diperlukan suatu kemampuan fisik yang bisa bertahan dalam waktu lama. Untuk ini kemampuan sistem jantung, paru-paru dalam tubuh haruslah terlatih.
Salah satu cara yang paling mudah untuk mengukur kemampuan fisik adalah dengan melakukan aerobik. Selain itu diimbangi juga dengan latihan-latihan lain yang sesuai dengan jenis kegiatan yang akan dilakukan.
Sebagai contoh yang mudah kita lakukan ialah dengan melakukan pemeriksaan denyut jantung nadi tubuh kita sendiri, yaitu dengan melakukan metode sebagai berikut :
·
denyut nadi maksimal
setelah latihan = DNM ; yaitu jumlah denyut nadi dalam satu menit yang segera
dihitung setelah latihan selesai.
·
Bobot latihan yang
baik : berlari sejauh 2,4 km dalam waktu 12 menit.
·
Jumlah DNM tidak boleh
lebih dari 200 dikurangi usia.
Contohnya : Umur 20
tahun,
Maka DNM = 200 – 20 = 180 kali per menit.
Dengan makin seringnya latihan maka denyut nadi akan makin menurun mendekati denyut nadi sewaktu kita beristirahat.
Denyut nadi orang normal adalah 80 – 120 kali per menit.
2. Mental
Faktor mental kadang-kadang sering diabaikan, padahal tanpa keseimbangan dari fisik dan mental maka tujuan suatu perjalanan tidak akan memuaskan. Faktor mental memang sulit untuk diketahui, tetapi dengan pemberian motivasi yang baik maka kita biasanya dapat meningkatkan mental. Kegiatan yang memakan tenaga fisik yang berlebihan sebaiknya dihindarkan, terutama bagi orang-orang yang kita ketahui pernah berpenyakit yang berhubungan dengan fungsi susunan syaraf pusat seperti : epilepsi/ayan, gangguan kejiwaan, cedera kepala yang berat.
Maka DNM = 200 – 20 = 180 kali per menit.
Dengan makin seringnya latihan maka denyut nadi akan makin menurun mendekati denyut nadi sewaktu kita beristirahat.
Denyut nadi orang normal adalah 80 – 120 kali per menit.
2. Mental
Faktor mental kadang-kadang sering diabaikan, padahal tanpa keseimbangan dari fisik dan mental maka tujuan suatu perjalanan tidak akan memuaskan. Faktor mental memang sulit untuk diketahui, tetapi dengan pemberian motivasi yang baik maka kita biasanya dapat meningkatkan mental. Kegiatan yang memakan tenaga fisik yang berlebihan sebaiknya dihindarkan, terutama bagi orang-orang yang kita ketahui pernah berpenyakit yang berhubungan dengan fungsi susunan syaraf pusat seperti : epilepsi/ayan, gangguan kejiwaan, cedera kepala yang berat.
3. Daya Tahan Tubuh
Daya tahan tubuh sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor, antara lain :
Daya tahan tubuh sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor, antara lain :
a. Kebutuhan Oksigen
·
Oksigen sangat penting
bagi proses penyediaan energi dalam tubuh selama melakukan perjalanan.
Seringkali kita harus melakukan suatu proses aklimatisasi guna menyesuaikan
kemampuan tubuh dengan kadar oksigen setempat.
b. Kebutuhan Cairan
Dalam keadaan normal manusia tidak dapat hidup tanpa air. Beberapa penulis mengatakan manusia dapat hidup tanpa air kurang lebih selama 3 hari, tetapi ada pula yang mengatakan dalam suhu 20' - 30' C orang dapat bertahan hidup tanpa air sampai selama 8 hari.
Sebagai gambaran kebutuhan air dalam tubuh kita adalah :
Dalam keadaan normal manusia tidak dapat hidup tanpa air. Beberapa penulis mengatakan manusia dapat hidup tanpa air kurang lebih selama 3 hari, tetapi ada pula yang mengatakan dalam suhu 20' - 30' C orang dapat bertahan hidup tanpa air sampai selama 8 hari.
Sebagai gambaran kebutuhan air dalam tubuh kita adalah :
·
Suhu 10 C diperlukan
air 1 liter per 24 jam.
·
Suhu 20 C diperlukan
air 4 liter per 24 jam.
·
Suhu 30 C diperlukan
air 5 liter per 24 jam.
·
Suhu 40 C diperlukan
air 6 liter per 24 jam.
§Jadi dapat disimpulkan bahwa dengan meningkatnya suhu, manusia
akan semakin membutuhkan air akibat meningkatnya metabolisme di dalam tubuh.
Sehingga dapat dikatakan bahwa air adalah mutlak ada dalam kehidupan
manusia.
c. Kebutuhan Garam / Elektrolit
c. Kebutuhan Garam / Elektrolit
·
Salah satu elektrolit
terpenting dalam tubuh adalah NaCl atau garam dapur. Kebutuhan garam bagi
setiap orang di daerah sub-tropis adalah 10 gram/24 jam. Bagi daerah tropis
adalah 15-25 gram/24 jam tergantung dari aktifitasnya.
·
Untuk menjaga kadar
garam tubuh maka garam dapat dimasukkan dalam makanan, air minum (tidak
dianjurkan karena menimbulkan rasa haus), dan ada dalam bentuk tablet garam.
Dalam keadaan tertentu dapat digunakan garam oralit. Tetapi tidak dianjurkan
karena garam dalam oralit tidak mencukupi.
d. Suhu Lingkungan
·
Suhu lingkungan sangat
mempengaruhi daya tahan tubuh, karena itu perlu persiapan yang sesuai untuk
menghadapi daerah dengan suhu tertentu. Seringkali suhu dingin menyebabkan
kematian dan suhu panas dapat mengakibatkan kejang panas dan kadang-kadang juga
kematian.
·
Tubuh manusia akan
lebih mudah menyesuaikan diri dengan suhu panas dari pada suhu dingin. Proses
aklimatisasi dalam suhu panas biasanya berlangsung lebih cepat dan dapat
diatasi dengan memakai pakaian tipis, menyerap keringat, berwarna cerah,
memakai pelindung panas matahari, minum banyak, menjaga supaya kebutuhan air
dan garam tetap seimbang dalam tubuh. Terhadap suhu dingin tubuh lebih sukar
untuk menyesuaikan diri, karena suhu lingkungan yang rendah mengakibatkan
kalori yang dibutuhkan lebih besar agar suhu tubuh tetap normal.
·
Pakaian sangat
menetukan. Selain pakaian, maka makanan sangat berpengaruh dalam keadaan suhu
lingkungan yang rendah.
e. Makanan
Untuk kehidupan sehari-hari tanpa aktivitas yang berat, maka jumlah kalori yang diperlukan setiap orang adalah 2000 – 2500 kalori per hari. Tetapi dalam aktivitas berat maka kebutuhan akan meningkat menjadi 2500 – 3500 kalori.
Sumber makanan adalah zat hidrat arang, lemak dan protein. Makanan yang baik adalah apabila terdiri dari :
- 75% berasal dari hidrat arang
- 25% berasal dari protein dan lemak
kelebihan dari hidrat arang adalah zat ini lebih mudah dicerna dari pada protein dan lemak.
Jadi jenis makanan yang akan dimakan dalam perjalanan haruslah sesuai dengan jumlah kalori yang dibutuhkan. Untuk jelasnya lihat lampiran tentang jenis makanan dan contoh macam makanan.
PENCAPAIAN KONDISI PRIMA
Untuk kehidupan sehari-hari tanpa aktivitas yang berat, maka jumlah kalori yang diperlukan setiap orang adalah 2000 – 2500 kalori per hari. Tetapi dalam aktivitas berat maka kebutuhan akan meningkat menjadi 2500 – 3500 kalori.
Sumber makanan adalah zat hidrat arang, lemak dan protein. Makanan yang baik adalah apabila terdiri dari :
- 75% berasal dari hidrat arang
- 25% berasal dari protein dan lemak
kelebihan dari hidrat arang adalah zat ini lebih mudah dicerna dari pada protein dan lemak.
Jadi jenis makanan yang akan dimakan dalam perjalanan haruslah sesuai dengan jumlah kalori yang dibutuhkan. Untuk jelasnya lihat lampiran tentang jenis makanan dan contoh macam makanan.
PENCAPAIAN KONDISI PRIMA
Faktor Fisik, Mental
dan Daya Tahan Tubuh merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Untuk
mencapai keadaan yang prima diperlukan kemampuan terhadap hal-hal sebagai
berikut :
1.
Pengetahuan Tentang
Kesehatan Perjalanan: Di sini kita
harus mengenal jenis risiko apa saja yang akan dihadapi/mungkin dihadapi pada
perjalanan. Jenis penyakit atau kecelakaan setidaknya sudah dapat diperkirakan
sebelum melakukan perjalanan, sehingga dalam persiapan kita telah menyediakan
dan mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan penyakit itu. Sebagai gambaran,
lihat lampiran tentang kasus-kasus yang mungkin dihadapi.
2.
Perlengkapan
Perjalanan; Tentang perlengkapan perjalanan selain
makanan, telah dibicarakan, sedangkan tentang makanan yang perlu dibawa, di
sini hanya dicoba memberi gambaran tentang makanan yang mudah kita dapatkan
sehari-hari.
3.
Perlengkapan
P3K; Dengan membawa perlengkapan P3K yang telah
dipersiapkan terhadap segala kemungkinan, maka diharapkan kita dapat mengatasi
kesulitan selama perjalanan dan bila timbul kecelakaan kita dapat membawa
korban ke tempat pertolongan sesuai dengan kemampuan maksimal yang dapat
dilakukan. (Pada Lampiran dapat dilihat contoh perlengkapan P3K).
Untuk membahas
Keselamatan Perjalanan ini memang diperlukan waktu yang cukup lama mengingat
kemampuan umumnya kalangan non medis yang masih kurang. Padahal PPPK,
penanggulangan gawat darurat dan Kesehatan Perjalanan haruslah dikuasai oleh
pihak-pihak yang berkecimpung dalam SAR, pecinta alam, pendaki gunung, pramuka,
polisi dan lain-lain. Anggapan bahwa tindakan P3K adalah monopoli kalangan
medis haruslah dihilangkan. Latihan-latihan mengenai hal-hal tersebut perlu
ditingkatkan lagi mengingat tujuan utama dari semua perjalanan yaitu
: SELAMAT SAMPAI KEMBALI KE RUMAH MASING-MASING
PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN
PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN
Dalam kegiatan di alam
terbuka, kita mempunyai risiko untuk mengalami kecelakaan ringan ataupun berat.
Oleh karena itu, seseorang yang sering bergaul dengan alam terbuka wajib
memiliki pengetahuan tentang Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K).
pengetahuan ini akan terasa sekali manfaatnya di saat kita dihadapkan pada
suatu keadaan sulit. Mungkin rekan kita mengalami kecelakaan di tempat yang
jauh dan terpencil dan kita harus secepatnya melakukan pertolongan untuk
menyelamatkan jiwanya. Siapkah Anda untuk menghadapi keadaan seperti itu ?
Pertolongan yang dilakukan biasa disebut pertolongan gawat darurat. Pertolongan maksud utamanya bukanlah untuk memberikan pengobatan, tetapi suatu usaha berupa tindakan pertama untuk mencegah/melindungi korban dari akibat-akibat lanjut yang lebih parah, misalnya kerusakan fungsi tubuh akibat kecelakaan tersebut. Secara tegas dimaksudkan untuk mencegah terjadinya cacat bila korban dapat diselamatkan.
Penyebab utama kematian seseorang penderita gawat darurat adalah :
Pertolongan yang dilakukan biasa disebut pertolongan gawat darurat. Pertolongan maksud utamanya bukanlah untuk memberikan pengobatan, tetapi suatu usaha berupa tindakan pertama untuk mencegah/melindungi korban dari akibat-akibat lanjut yang lebih parah, misalnya kerusakan fungsi tubuh akibat kecelakaan tersebut. Secara tegas dimaksudkan untuk mencegah terjadinya cacat bila korban dapat diselamatkan.
Penyebab utama kematian seseorang penderita gawat darurat adalah :
Mengatasi Henti Nafas
dan Henti Jantung
Bila kita mendapatkan seseorang tergeletak dan tidak sadar, maka harus segera diperiksa pernapasannya dan denyut jantungnya. Untuk memeriksa pernapasannya, dekatkan punggung tangan atau pipi kita ke hidung orang tersebut. Rasakan adakah aliran udara dari hidungnya. Denyut jantungnya diperiksa dengan cara memegang/memeriksa denyut pembuluh nadi di daerah samping leher. Bila orang tersebut dalam keadaan henti napas dan henti jantung, maka kita harus segera melakukan pertolongan.
Orang tidak bernapas karena :
Bila kita mendapatkan seseorang tergeletak dan tidak sadar, maka harus segera diperiksa pernapasannya dan denyut jantungnya. Untuk memeriksa pernapasannya, dekatkan punggung tangan atau pipi kita ke hidung orang tersebut. Rasakan adakah aliran udara dari hidungnya. Denyut jantungnya diperiksa dengan cara memegang/memeriksa denyut pembuluh nadi di daerah samping leher. Bila orang tersebut dalam keadaan henti napas dan henti jantung, maka kita harus segera melakukan pertolongan.
Orang tidak bernapas karena :
·
Jalan napasnya
tersumbat (misal karena muntah, pendarahan).
·
Jalan napasnya
membengkak (misal karena keracunan gas).
·
Kelumpuhan alat
pernapasan (misal karena aliran listrik, keracunan)
Cara-cara mengatasinya
adalah :
1.
bersihkan jalan napas
(bebaskan dari sumbatan). Baringkan penderita pada posisi terlentang, kepala
dimiringkan, buka mulutnya. Dengan menggunakan dua jari kita keluarkan sumbatan
yang ada dalam rongga mulutnya
2.
Buka jalan napas
selebar-lebarnya dengan cara dahi didorong ke belakang dan periksa bahwa
lidahnya tidak boleh jatuh ke belakang, posisi leher menjadi lurus. Dapat pula
kita beri bantalan di bawah bahu. Jangan memberi bantal di bawah kepalanya
karena leher akan tertekuk
3.
Berikan pernapasan
buatan dari mulut ke mulut dengan mulut kita sebagai penolong. Buka mulut kita
lebar dan tempelkan untuk menutupi seluruh mulut penderita. Hidung penderita
dipijit rapat, kemudian hembuskan napas ke dalam saluran napas penderita. Lihat
apakah dada korban mengembang atau tidak (Gambar 3). Ulangi lagi hembusan.
Untuk penderita dewasa bisa dicoba 3 – 5 kali sampai 12 kali. Untuk anak-anak
sampai 20 kali. Untuk anak kecil, mulut kita menutup hidung dan mulutnya
sekaligus. Hembusan jangan terlalu kuat.
Bila penderita
mengalami henti jantung (tidak terbaca denyut nadinya), maka periksa reflek
pupil matanya. Bila pupil mata tidak bereaksi terhadap sinar (Gambar 4a),
berarti penderita sudah meninggal (otaknya sudah tidak berfungsi). Bila pupil
mata bereaksi (mengecil) jika terkena sinar (Gambar 4b), maka kita harus
melakukan pijat jantung luar. Karena henti jantung umumnya bersamaan dengan
henti napas, maka tindakan kita adalah memberikan pernapasan buatan dan
melakukan pijat jantung luar.
Untuk melakukan pijat jantung adalah sebagai berikut :
Untuk melakukan pijat jantung adalah sebagai berikut :
1.
Carilah ujung dada iga
bagian depan atau di ukur dua jari ke atas dari ujung dada, di sinilah kita
melakukan pijat jantung
2.
Letakkan pangkal
telapak tangan pada daerah tersebut dan satu telapak tangan menumpang pada
tangan pertama, siku harus berada dalam posisi lurus. Tekan kemudian kendurkan
secara berulang-ulang.
3.
Bila kita hanya
seorang diri yang harus melakukan pernapasan buatan dan sekaligus pijat
jantung, maka tiupkan napas dahulu dua kali, kemudian pijat jantungnya 15 kali.
Ulangi cara tersebut sampai penderita bisa bernapas sendiri. Setelah 15-20
menit tidak berhasil kemungkinan penderita tidak dapat tertolong lagi. Bila dua
orang, maka setiap satu kali hembusan napas lakukan 5 kali pijat jantung. ini
dilakukan bergantian bersama teman kita.
Sementara pertolongan
atau setelah pertolongan, kita dapat memberi tahu dokter dan mengirim ke rumah
sakit. Tetapi yang penting adalah harus memberikan pertolongan pertama kali.
Mengatasi Pendarahan
dan Patah Tulang
Bila penderita terluka dan terjadi pendarahan berwarna merah segar, sifatnya menyembur dan seolah-olah berdenyut seirama dengan denyut jantung, maka kita harus segera bertindak. Ini berarti terjadi pendarahan pada pembuluh nadi dan akan berbahaya jika dibiarkan. Tindakan yang harus dilakukan :
Bila penderita terluka dan terjadi pendarahan berwarna merah segar, sifatnya menyembur dan seolah-olah berdenyut seirama dengan denyut jantung, maka kita harus segera bertindak. Ini berarti terjadi pendarahan pada pembuluh nadi dan akan berbahaya jika dibiarkan. Tindakan yang harus dilakukan :
1.
Ambil kasa steril atau
kain bersih, lipat menjadi tebal, kemudian tutup daerah luka dengan menekan.
Tekanan harus dipertahankan sampai pendarahan berhenti, atau sampai adanya
pertolongan selanjutnya oleh dokter/perawat. Kalau kasa sudah terlalu basah
oleh darah, segera ganti dengan yang baru. Bagian badan yang mengalami
pendarahan diangkat tinggi, lebih tinggi dari bagian dada.
2.
Penghentian pendarahan
pembuluh nadi yang besar dapat pula dibantu dengan melakukan penekanan pada
tempat-tempat tertentu. Untuk pendarahan di daerah kepala, coba tekan pembuluh
darah di bagian depan telinga agak ke atas sedikit (Gambar 8). Untuk pendarahan
muka, tekan daerah depan bawah telinga dekat ujung belakang dagu (Gambar 9).
Untuk pendarahan muka dan kepala, tekan pembuluh darah di leher bagian samping
(Gambar 10). Untuk pendarahan di lengan bawah, tekan di lengan atas bagian
dalam, di atas siku. Untuk pendarahan di tungkai bawah, lakukan penekanan di
lipatan paha bagian tengah (Gambar 12).
3.
Penderita segera
dibawa ke rumah sakit atau dokter terdekat.
Bila luka disertai patah tulang, maka bagian
yang patah tidak boleh dibiarkan. Harus dipertahankan agar tidak bertambah
patah. Caranya, jangan mengangkat penderita dengan kasar. Kalau ada luka
dibalut atau kalau terjadi pendarahan hebat, hentikan dahulu. Kemudian buat
bidai dengan kayu/kartun yang dibungkus dengan kain atau kasa. Panjang bidai
harus melewati dua sendi diantara tulang yang patah. Lakukan pengikatan bidai
dengan kain segi tiga atau kain kasa. Bila terjadi patah tulang bagian bawah
dapat pula dibuat gendongan dengan kain segi tiga. Yang paling sulit adalah
kalau terjadi patah tulang leher atau tulang belakang. Harus hati-hati waktu
akan mengangkat penderita. Penderita harus diletakkan di atas papan yang datar,
kemudian baru dipindahkan atau di bawa ke rumah sakit.
Untuk penderita dengan patah tulang dan atau pendarahan yang hebat, tetap harus selalu diawasi, jangan sampai terjadi gangguan henti nafas dan atau henti jantung.
GANGGUAN UMUM
Yang dimaksud dengan gangguan umum adalah terpengaruhnya keadaan fungsi seluruh tubuh akibat suatu kecelakaan. Macam gangguan umum :
Untuk penderita dengan patah tulang dan atau pendarahan yang hebat, tetap harus selalu diawasi, jangan sampai terjadi gangguan henti nafas dan atau henti jantung.
GANGGUAN UMUM
Yang dimaksud dengan gangguan umum adalah terpengaruhnya keadaan fungsi seluruh tubuh akibat suatu kecelakaan. Macam gangguan umum :
1. Lena
a. Gejala Subyektif :
a. Gejala Subyektif :
·
Pusing,
·
telinga berdenging,
·
mual,
·
mata berkungang-kunang
·
merasa lemas.
b. Gejala Obyektif :
·
keluar keringat
dingin,
·
pucat,
·
denyut nadi lemah
c. Sebab-sebabnya karena peredaran darah ke
otak berkurang, misalnya karena,
·
emosi yang
hebat rasa nyeri yang hebat,
·
berada dalam ruangan
yang penuh orang,
·
tanpa udara segar,
·
keadaan lemah setelah
sakit,
·
terlampau banyak
mengeluarkan tenaga,
·
keringat dan letih
apalagi bila perut kosong
d. Pertolongan :
·
Tidurkan terlentang
dengan kepala agak rendah.
·
Longgarkan pakaian
yang menyesakkan pernapasan.
·
Usahakan agar
penderita dapat menghirup udara segar.
·
Beri selimut agar
badannya hangat kembali.
·
Apabila penderita
sudah lebih sadar dan dapat minum, maka kopi hangat atau sedikit anggur akan
banyak menolong.
2. Gugat
Adalah suatu keadaan yang timbul karena jumlah darah yang beredar dalam pembuluh-pembuluh darah sangat kurang.
a. Gejalanya : Gugat sebenarnya kelanjutan dari lena, maka pada permulaannya :
Adalah suatu keadaan yang timbul karena jumlah darah yang beredar dalam pembuluh-pembuluh darah sangat kurang.
a. Gejalanya : Gugat sebenarnya kelanjutan dari lena, maka pada permulaannya :
·
merasa mual, lemas dan
mata berkunang-kunang
·
pucat dan dingin
·
keringat dingin tampak
pada kening
·
denyut nadi cepat dan
lemah (lebih dari 100 permenit)
·
pernapasan cepat tapi
dangkal
·
keadaan lanjut,
penderita menjadi pingsan.
b. Sebab-sebabnya :
·
pendarahan, ke luar
maupun ke dalam
·
luka bakar yang luas
menyebabkan cairan darah merembes keluar dari pembuluh-pembuluh darah
c. Pertolongan
·
Penderita dibaringkan
di tempat yang segar udaranya dengan kepala pada posisi yang lebih rendah dari
kakinya, kecuali jika terdapat luka di daerah kepala.
·
Tenangkan si
penderita.
·
hentikan pendarahan
yang ada dan balutlah bila ada luka.
·
pakaian yang terlalu
ketat dilonggarkan.
·
diselimuti agar jangan
kedinginan, tetapi jangan juga sampai berkeringat kepanasan.
·
secepatnya dibawa ke
rumah sakit atau penolong yang lebih berwenang.
3. Pingsan
pada pingsan, fungsi otak terganggu sedemikian sehingga penderita tidak sadarkan diri.
a. Gejalanya :
pada pingsan, fungsi otak terganggu sedemikian sehingga penderita tidak sadarkan diri.
a. Gejalanya :
·
tidak menyahut apabila
dipanggil/ditanyai dan tidak memberi reaksi atas suatu rangsangan (dicubit,
ditusuk)
·
biasanya penderita
terbaring tak bergerak, tetapi terkadang sangat gelisah
·
pernapasan ada, denyut
nadi dapat diraba
b. sebab-sebabnya :
·
kekurangan zat asam
dalam darah (misalnya jika tenggelam)
·
kerusakan pada otak
karena pukulan, pendarahan otak, geger otak dan lain-lain
·
keracunan makanan,
minuman
·
terlampau kepanasan
atau kedinginan
·
terkena aliran listrik
·
penyakit-penyakit
ginjal, kencing manis, epilepsi
c. pertolongannya :
·
baringkan di tempat
yang teduh dan segar
·
jika mukanya merah,
kepala ditinggikan. Tetapi bila mukanya pucat, biarkan berbaring tanpa bantal
·
kepala dimiringkan
supaya bila penderita muntah, muntahannya dapat keluar dan tidak mengganggu
pernapasan
·
isi mulut (makanan,
gigi palsu) harus dikeluarkan.
·
pakaian dilonggarkan.
·
diselimuti agar tidak
kedinginan.
·
jangan berikan makanan
dan minuman kepada penderita.
·
secepatnya dibawa ke
rumah sakit atau kepada penolong yang lebih berwenang.
4. Mati Suri
Mati suri adalah keadaan dari pingsan (keadaan gawat antara pingsan dan mati). Pernapasan tidak tampak, denyut nadi/jantung tidak terasa, biji mata melebar dan tidak bereaksi terhadap penyinaran, muka pucat agak kebiru-biruan.
a. Sebab-sebabnya :
Mati suri adalah keadaan dari pingsan (keadaan gawat antara pingsan dan mati). Pernapasan tidak tampak, denyut nadi/jantung tidak terasa, biji mata melebar dan tidak bereaksi terhadap penyinaran, muka pucat agak kebiru-biruan.
a. Sebab-sebabnya :
·
Tidak dapat bernapas
(paru-paru kekurangan zat asam), karena tenggelam, tertimbun tanah, tercekik
dan sebagianya.
·
Terhirup gas beracun
·
Terkena aliran
listrik, disambar petir
b. Pertolongannya :
·
Baringkan telentang,
longgarkan pakaian-pakaian yang mengikat/menghambat pernapasan.
·
Hilangkan segala
barang yang dapat menyumbat pernapasan.
·
Lakukan pernapasan
buatan dan kalau perlu pijat jantung.
·
Mintakan seseorang
untuk menghubungi dokter terdekat.
5. Penyakit Pegunungan
Makin tinggi suatu tempat, makin berkurang kadar O2, dan hal ini akan berpengaruh terhadap tubuh seseorang (terasa pada ketinggian di atas 2000 meter dari permukaan laut).
Penyakit Pegunungan Yang Akut
a. Gejala-gejalanya :
Makin tinggi suatu tempat, makin berkurang kadar O2, dan hal ini akan berpengaruh terhadap tubuh seseorang (terasa pada ketinggian di atas 2000 meter dari permukaan laut).
Penyakit Pegunungan Yang Akut
a. Gejala-gejalanya :
·
penderita merasa
pusing, letih, mengantuk, perut mual, dan sesak napas
·
yang kemudian
berlanjut menjadi tubuh panas, gelisah, telinga berdenging, sukar konsentrasi,
dan sukar tidur.
b. Pertolongan :
·
istirahat yang cukup
(gejala akan hilang sesudah 24 – 48 jam).
·
Bila tidak ada
perubahan bawa ke tempat yang lebih rendah.
c. Pencegahan:
·
sebelum mendaki,
beristirahat yang cukup.
·
Makan jangan terlampau
kenyang,
·
kurangi merokok dan
minum alkohol.
Penyakit Pegunungan
Akut Yang Disertai Kelainan Paru-paru
Terasa pada ketinggian di atas 3000 meter, dan
a. gejalanya-gejalanya: muncul 6 – 36 jam setelah tiba di tempat, berupa :
Terasa pada ketinggian di atas 3000 meter, dan
a. gejalanya-gejalanya: muncul 6 – 36 jam setelah tiba di tempat, berupa :
·
batuk kering, sesak
napas, bahkan mungkin batuk darah.
·
denyut nadi cepat.
·
Muka pucat dan membiru
·
Selanjutnya pingsan
b. Pertolongan:
·
baringkan penderita
dengan kepala lebih rendah dari anggota tubuh yang lain.
·
Berikan pernapasan
buatan jika perlu.
·
Bawa ke tempat yang
lebih rendah,
·
dan bila tidak ada
kemajuan bawa ke rumah sakit.
6. Gangguan Setempat
Yang dimaksud dengan gangguan setempat adalah suatu kecelakaan yang terasa sakit pada hanya sekitar anggota tubuh yang terkena. Macam gangguan setempat :
1. L u k a
Maksudnya adalah jaringan kulit yang robek, terputus, atau rusak karena sesuatu misalnya tergores, tertusuk, terbacok, tertembak dan sebagianya.
Dasar Pertolongan :
Yang dimaksud dengan gangguan setempat adalah suatu kecelakaan yang terasa sakit pada hanya sekitar anggota tubuh yang terkena. Macam gangguan setempat :
1. L u k a
Maksudnya adalah jaringan kulit yang robek, terputus, atau rusak karena sesuatu misalnya tergores, tertusuk, terbacok, tertembak dan sebagianya.
Dasar Pertolongan :
·
menghentikan
pendarahan.
·
Mencegah infeksi
·
Mencegah kerusakan
lebih lanjut.
·
Menggunakan cara-cara
yang mempermudah dan mempercepat penyembuhan.
2. Luka Bakar
Yang dimaksud luka bakar adalah kerusakan jaringan tubuh yang disebabkan panas karena terjadi sentuhan yang intensif antara tubuh dengan benda panas yang melebihi 600C.
Macam luka bakar :
Yang dimaksud luka bakar adalah kerusakan jaringan tubuh yang disebabkan panas karena terjadi sentuhan yang intensif antara tubuh dengan benda panas yang melebihi 600C.
Macam luka bakar :
·
Luka bakar tingkat I,
pembakaran terjadi pada lapisan atas kulit ari, warna kemerah-merahan.
·
Luka bakar tingkat II,
pembakaran terjadi pada kulit ari, terdapat gelembung-gelembung berisi cairan.
·
Luka bakar tingkat
III, pembakaran terjadi sampai kulit jangat, warna hitam menghapus.
·
Luka bakar tingkat IV,
pembakaran sudah sampai pada jaringan ikat atau lebih. Kulit ari dan kulit
jangat sudah terbakar.
Dasar Pertolongan :
·
Jauhkan sumber panas
dari tubuh.
·
Oleskan obat sebangsa
lemak, boozalf steril, levertranzalf.
·
Dibalut,
longgar-longgar.
·
Berikan minum
banyak-banyak.
·
Jaga jangan sampai
kedinginan.
·
Segera dibawa ke rumah
sakit.
3. Patah Tulang
Macam patah tulang :
Macam patah tulang :
·
Patah Tulang Terbuka :
tulang yang patah menonjol keluar (ada luka di luar). Tulang tersebut
berhubungan langsung dengan udara luar.
·
Patah Tulang Tertutup
: tulang yang patah tidak berhubungan langsung dengan udara.
Tanda-tanda patah
tulang :
·
Bagian yang patah
tidak bisa digerakkan.
·
Rasa sakit akan
bertambah bila tersentuh atau bagian tersebut digerakkan.
·
Bentuk bagian tersebut
berlainan dengan bentuk biasanya.
·
Sekitar luka bengkak
dan kebiru-biruan.
·
Pada patah tulang
terbuka akan terlihat jelas tulang yang patah tersebut.
Pertolongan :
·
Pada patah tulang
tertutup, pakaian yang menutup tak perlu dibuka. Pada patah tulang terbuka,
pakaian yang menutup harus dibuka agar bisa merawat luka (membalut dan
mengobatinya).
·
Lakukan perawatan
(penasatan) apabila terjadi pendarahan.
·
Luka ditutup dengan
kasa steril dan dibalut.
·
Lakukan pembidaian
yang memenuhi syarat.
·
Bagian yang patah
ditinggikan.
·
Segera dibawa ke rumah
sakit.
Syarat-syarat
pembidaian :
·
panjang bidai harus
memenuhi syarat.
·
Bidai harus pipih,
empuk dan lembut.
·
Ikatan harus cukup
jumlahnya, dan tidak terlalu ketat atau longgar.
·
Ikatan dilakukan di
atas dan di bawah tempat yang patah dan harus melewati sendi-sendi yang
mengapitnya.
·
Kalau mungkin
dilakukan lebih dari satu orang.
4. Luka Gigitan
1.
Tanda-tanda gigitan
ular jenis Colubridae (ular belang, ular sendok, dan lain-lain) : karena yang
dipengaruhi adalah susunan syaraf, maka tidak begitu jelas tanda-tandanya.
Biasanya disertai dengan sesak napas, dan bahkan luka gigitan tidak begitu
sakit, tetapi sangat cepat membunuh.
2.
Tanda-tanda gigitan
ular jenis Viperidae (ular puspa, ular tanah, dan sebagianya) : karena yang
dipengaruhi adalah sistem peredaran darah, akan timbul bercak-bercak darah di
seluruh tubuh, dapat pula disertai batuk darah, kencing darah, dan sebagianya.
Luka gigitan terasa nyeri dan membengkak.
Pertolongan :
·
Lakukan penasatan
antara luka dan jantung. kurangi aktifitas/gerakan korban untuk mencegah
penyebaran bisa.
·
Perbesar bekas luka
gigitan (iris) dengan pisau silet yang steril (sudah dipanaskan) supaya darah
mudah keluar, tetapi hati-hati terhadap pembuluh darah yang lebih besar.
·
Isaplah luka untuk
mengeluarkan bisa dari darah (mulut penolong tidak boleh ada luka).
·
Tutup luka dengan kasa
steril, dan kemudian dibalut.
·
Segera dibawa ke rumah
sakit.
Pertolongan pada luka
gigitan serangga (kalajengking, kelabang, laba-laba, dan lainnya) :
·
Pada luka diolesi
dengan amonia atau kapur sirih.
·
Pada sengatan
kalajengking, harus dikompres dengan es atau larutan soda kue.
·
Untuk mengurangi rasa
sakit, dapat dioles dengan obat gosok (balsem, atau obat gosok lainnya).
·
Bila disertai dengan
shock atau pingsan, rawatlah dengan semestinya.
·
Segera dibawa ke rumah
sakit atau penolong lain yang lebih berwenang.
5. Keracunan
·
Keracunan Obat; Pada keracunan alkohol atau kebanyakan pil tidur, tindakan
pertolongannya adalah usahakan agar si penderita muntah, lalu beri air kopi
pekat atau dimasukkan melalui duburnya
·
Keracunan Melalui
Pernapasan; Tindakan utama pada
pertolongan keracunan gas adalah menyingkirkan penderita dari tempat keracunan
ke tempat yang berudara segar. Kemudian berikan pernapasan buatan.
·
Keracunan Makanan; Keracunan makanan umumnya dapat diketahui dari riwayat
sebelumnya bahwa penderita telah memakan sesuatu yang dicurigai beracun,
misalnya jamur, singkong, makanan kaleng, dan sebagianya.
Pertolongan :
·
Tindakan utama dalam
keracunan makanan adalah mengusahakan agar si penderita muntah, yaitu dengan
menekan langit-langit tenggorokan dengan jari melalui mulut.
·
Setelah muntah, beri
tablet norit atau arang yang telah ditumbuk halus.
·
Bila perlu berikan
pernapasan buatan.
Khusus untuk keracunan
makanan kaleng, biasanya berakibat fatal. Karena itu, yang terpenting adalah
menghindarkan bahaya keracunan dengan selalu memanaskan terlebih dahulu makanan
kaleng, karena racun botulinum dapat terurai dengan pemanasan. Selain itu,
pastikan bahwa makanan kaleng tersebut masih baru.
6. Cara Merawat Luka
Tujua utama merawat luka adalah meghindarkan dari bahaya infeksi. Cara melakukannya :
6. Cara Merawat Luka
Tujua utama merawat luka adalah meghindarkan dari bahaya infeksi. Cara melakukannya :
·
Bersihkan luka dari
kotoran dengan air bersih atau boorwater, dan sebagianya.
·
Beri merkurokrom 2 %
atau yodium tinctur 3 – 5 %
·
Bubuhi dengan sulfa
steril.
·
Tutuplah luka dengan
kasa steril atau kain bersih.
·
Balut luka, jagan
melekatkan kapas langsung bersentuhan dengan luka.
5 Penyakit
Gunung yang Biasa Menyerang Para Pendaki
Penanganan
Penyakit Gunung
Kegiatan di gunung merupakan salah satu
kegiatan di alam bebas. Masyarakat biasa menyebut dengan pendakian. Pendakian
kini bukan lagi sebagai sarana alternatif wisata, namun juga sebagai kegiatan
pendidikan bahkan untuk penelitian. Selain tujuan diatas, kegiatan ini juga
mempunyai resiko yang cukup tinggi, rentan terjadinya kecelakaan, potensi alam
yang menimbulkan bahaya, dan kemungkinan lainnya.
Beberapa penyakit gunung ini bisa dicegah jika
kita mempersiapkan diri sebelum memulai pendakian, agar dapat menghindari
hal-hal yang tidak kita inginkan bersama. Pepatah “mencegah lebih baik daripada
mengobati” sangat tepat untuk kegiatan ini. Dengan mengetahui lebih dini dan
tahu cara penanganan jika terjadi resiko, maka akan meminimalisir dampak buruk
dari kegiatan pendakian yang memang memiliki tingkat resiko cukup tinggi.
Berikut adalah beberapa kejadian yang dapat
diklasifikasikan sebagai penyakit pegunungan (Mountain Sickness) :
- HIPOTERMIA
Adalah suatu keadaan dimana suhu jatuh ke
dalam suhu dibawah normal. Penyebab terjadinya hipotermia antara lain :
- Tubuh terendam dalam suhu dibawah titik beku dimana kejadian hipotermia akan cepat berlangsung.
- Hipotermia akan berlangsung perlahan bila berada/kontak lama dalam lingkungan suhu dingin.
- Hipotermia lebih mudah terjadi pada seseorang yang kelelahan, kelaparan, ketakutan, tubuh basah, terkena angin dingin, dan kekurangan oksigen pada ketinggian.
Gejala-gelanya :
- Penurunan suhu tubuh dengan tanda-tanda korban, bila diraba seluruh tubuh terasa dingin dan tampak kelabu dan kebiru-biruan atau pucat
- Tanda-tanda vital : frekuensi nadi, kuat atau lemahnya denyut nadi tidak normal, begitu juga suhu tubuh dan pernafasannya tidak normal dibandingkan orang normal
- korban dapat mengalami penurunan kesadaran, mengantuk, mengigau (Linglung) atau tidak sadar.
Penanganannya :
- Yang harus diperhatikan pertama kali adalah resusitasi ABC, terutama jalan nafas, bila ada henti jantung atau henti nafas segera lakukan RJP.
- Cegah kehilangan panas, terutama panas tubuh dengan memindahkan korban dari lingkungan dingin. Pada penderita hipotermia ringan biasanya merespon terhadap penghambatan dari luar, dengan melepaskan baju basah dan dingin. Kemudian dipakaikan selimut/jaket yang hangat (bisa juga dengan Sleeping Bag). Dekatkan korban dengan perapian.
- Berikan korban minuman air gula yang hangat
- Segera evakuasi sambil memonitor kesadaran umum (kesadaran pernafasan dan denyut jantung)
- HIPOGLIKEMI
Adalah keadaan dimana kadar gula dalam darah
menjadi rendah disebabkan kekurangan zat gula termasuk cadangan dalam tubuh.
Keadaan ini bisa terjadi pada korban yang lama tidak makan atau minum yang
mengandung zat gula dalam lingkungan dingin dalam waktu yang cukup lama dengan
gejala-gejala :
- keringat dingin, penglihatan menjadi kabur, kehilangan kemampuan untuk bergerak, kejang, jantung berdebar, cemas, gelisah, bingung bahkan tidak sadar.
Keluhan tersebut akan hilang atau berkurang
dengan pemberian zat gula.
Penanganannya :
- Baringkan korban tanpa bantal
- Jaga jalan nafas, berikan oksigen bila ada oksigen. Jika terjadi henti jantung dan atau henti nafas lakukan kembali RJP (Resusitasi Jantung Paru) seperti penanganan keadaan umum.
- Jika korban sadar cepat beri minum atau makanan yang kaya kandungan glukosa (manis, mengandung zat gula/pati)
- Korban harus tetap diusahakan dalam keadaan sadar, baik itu dengan cara dibangunkan ataupun dengan pemberian rangsangan sakit, hangatkan korban dan secepat mungkin dievakuasi ke instansi kesehatan terdekat untuk mendapatkan pertolongan selanjutnya.
- FROSBITE
Suatu proses penurunan suhu tubuh yang
disebabkan oleh suhu dingin yang menyebabkan terjadinya kekakuan atau
membekunya anggota tubuh. Gejala-gejala ini dapat kita ketahui pada ujung-ujung
jari dan kaki menjadi dingin dan kaku, atau pada kuping/telinga kita jika kita
merasa begitu dingin. Frosbite ini biasanya menyerang pada petualang alam bebas
di medan es/gunung es.
Frosbite dibagi menjadi dua golongan :
- Frosbite permukaan
Biasanya yang terkena hanya kulit dan lapisan
dibawahnya ditandai dengan terasa kerasnya kulit dan berwarna abu-abu putih,
terasa sakit lama-kelamaan menghilang.
Penanganannya :
- Letakkan bagian yang terkena pada anggota tubuh yang lain yang hangat tetapi jangan digosok agar tidak terjadi kematian/kerusakan jaringan.
- Rendam dengan air hangat, jangan menyentuh tersebut langsung ke benda panas, api, lampu atau batu panas.
- Beri makanan dan minuman hangat non alkohol dan gerakan bagian yang terkena, sebaiknya makanan dan minuman yang lembut.
- Frosbite dalam
Yang terkena adalah otot-otot dan tulang
ditandai dengan membesarnya bagian yang terkena dan menjadi kaku dan mati rasa.
Penanganannya :
- Lakukan pencarian seperti pada penanganan frosbite permukaan lakukan terus menerus dengan berurutan.
- DEHIDRASI
Adalah kekurangan cairan yang disebabkan oleh
kekurangan pemasukan cairan atau pengeluaran cairan yang berlebihan. Keadaan
ini dapat terjadi pada orang-orang yang melakukan aktivitas berat dalam waktu
yang cukup lama tanpa mengkonsumsi cukup cairan. Dehidrasi juga dapat terjadi
pada orang yang menderita diare. Karena orang yang terkena diare, cairannya
banyak yang terbuang melalui pencernaan. Bahaya lain dari dehidrasi adalah
terganggunya keseimbangan elektrolit tubuh dan dapat menjadi penyakit pada
keadaan bahaya lain seperti kram otot. Heat stroke, syok. Dehidrasi jika
dilakukan terus menerus akan menyebabkan kondisi kematian.
Bila ditemukan tanda-tanda dehidrasi pada
semua tingkat harus segera dilakukan penanganan karena keadaan ini dapat segera
berubah menjadi keadaan yang lebih berat. Penanganan dehidrasi adalah dengan
segera menghindarkan korban dari keadaan yang bisa menyebabkan atau memperberat
dehidrasi. Kemudian jika korban dalam keadaan sadar segera berikan cairan yang
ditambahkan gula sedikit garam (Larutan Garam Gula = LGG), oralite atau minuman
sebanyak-banyaknya untuk menggantikan kehilangan cairan. Hati-hati pada orang
yang kurang kooperatif atau tidak sadar karena bisa tersedak dan mengakibatkan
kondisinya memburuk.
Tanda-tanda dehidrasi sesuai dengan derajatnya
:
|
Gejala
Klinik
|
Ringan
|
Sedang
|
Berat
|
|
Kesadaran
|
Sadar
|
Mengantuk/Apatis
|
Tidak
sadar
|
|
Nadi
|
Agak
cepat
|
Cepat
|
Susah
teraba
|
|
Pernafasan
|
Normal
|
Agak
Cepat
|
Lambat
|
|
Elastisitas
Kulit
|
Normal
|
Agak
Turun
|
Sangat
Turun
|
|
Selaput
Lendir Mulut
|
Basah
|
Kering
|
Sangat
Kering
|
|
Rasa
Haus
|
+
|
++
|
∞
|
|
Air
Seni
|
Normal
|
Turun
Sedikit
|
Tidak
Ada
|
- HEAT STROKE
Adalah gangguan pada tubuh yang disebabkan
oleh sengatan panas sebagai akibat kegiatan fisik dilingkungan suhu panas atau
cuaca yang sangat panas, sehingga timbul gangguan hebat pada sistem pengaturan
suhu tubuh disertai tanda-tanda yang khas yaitu:
- Kenaikan suhu badan yang tinggi
- Kejang
- Penurunan kesadaran, koma bahkan kematian
Gejala-gejala heatstroke terdiri dari :
- Gejala Lanjutan : korban menjadi pasif (malas berkomunikasi), muntah yang sangat hebat, suhu tubuh menjadi sangat panas (≥ 45°C), nadi sangat cepat (≥ 160x/menit), pernafasan cepat, kejang pada bagian tubuh tertentu, kulit menjadi merah, panas dan kering.
- Gejala Kritis : Syok, kesadaran semakin menurun, pupil membesar, kejang pada seluruh tubuh.
Penanganannya :
- Jaga jalan nafas tetap bebas, pernafasan tetap baik, lakukan RJP jika perlu kecuali gejala heatstroke secara dini, pindahkan ke tempat yang teduh, baringkan korban, longgarkan pakaian dan perlengkapannya.
- Apabila tidak ada alat pengukur suhu tubuh, kita dapat membandingkan suhu tubuh korban dengan suhu tubuh kita sebagai penolong
- Dinginkan tubuh korban dengan segera sampai suhu tubuh kira-kira 38.5°C dengan mengompres tengkuk dengan air dingin, dan bila mungkin diberi cukup air minum
- Keringkan tubuh korban untuk mencegah korban jatuh kedalam keadaan hipotermia.
- Monitor suhu tubuh setiap 5 menit, jaga korban tetap dalam keadaan sadar.
Catatan :
Jika Heat stroke ini didiamkan akan
menyebabkan mati suri, keadaan lebih lanjut dari pingsan dimana fungsi
pernafasan menurun dan tidak mencukupi lagi, korban jadi tidak sadar, denyut
nadi tidak teraba, dan pernafasan tidak tampak, pupil mata melebar dan ada
reaksi terhadap penyinaran, muka pucat kebiru-biruan.
Demikian beberapa penyakit Gunung yang perlu
diketahui oleh para pendaki Gunung. Semoga ulasan ini bermanfaat.
Komentar
Posting Komentar